Langsung ke konten utama

Laki - Laki Tampan (Part 8)


Besok lusa, kuputusakan untuk pulang lagi atas permintaan ayah. Kali ini ayah yang menjemput di bandara. Sudah lama aku tak melihat raut mukanya berseri - seri. Sepanjang jalan, bibirnya tersungging manis, entah apa yang membuatnya bahagia "ayah, senang sekali" kataku sambil menatap wajahnya yang sumringah 
"Iya dong. Kan, putri ayah akan menikah" ucap ayah 

Sampai dirumah ibu memelukku dengan erat, kesehatannya pun lebih baik daripada satu bulan lalu. Ekspresi ibu juga sama dengan ayah, berbinar - binar terpancar dari sorot matanya. "Ada apa ibu?" Tanyaku 
Lengannya merengkuh kedua bahuku "sebentar lagi kamu akan menjadi pengantin" bisik ibu ditelingaku 
Aku tersipu malu "dengan siapa bu, aku kan belum punya calon" ucapku malu - malu 
"Lhooo.. ayah mu belum cerita tentang Rama" 
"Rama siapa bu, aku gak kenal. Ayah juga gak cerita" 
Ibu mendengus kesal "Rama adalah laki - laki yang akan menikahimu, nak. Dia, akan melamar mu besok lusa" 

Setiap gadis saat mendengar kata melamar, dalam hati langsung membuncah bahagia, tetapi batinku malah resah. Disatu sisi aku masih menjalin hubungan dengan Baim, dipihak lain aku harus menerima lamaran seseorang yang tak kukenal sama sekali. Hari demi hari rasanya kian berat, apalagi ibu dan ayah selalu membahas tentang Rama. Rasanya seperti tak ada kesempatan untuk membicarakan Baim, kekasihku. 

Kekasihku Baim, akan tetapi aku juga calon istri Rama. Andai aku mampu berpikir egois tentu Baim akan kupilih. Namun, aku ingat dengan prinsip pernikahanku "menikah tidak hanya menyatukan dua insan diatas pelaminan, akan tetapi juga dua keluarga besar menjadi satu". Hubunganku dengan Baim tidak akan pernah mendapat restu dari ayah dan ibu. Aku tak akan sanggup melukai hati mereka dengan kembalinya Baim dikehidupanku. "Aku harus putus dengannya lagi" nuraniku berkata

Lagi - lagi kami bertemu kembali di cafe yang sama seperti satu bulan yang lalu, hanya waktunya berbeda, dulu malam sekarang siang. Kali ini Sari lebih dulu datang, dan sudah memesan minuman dan makanan.
"Kamu sudah lama menungguku?" Tanyaku 
"Lumayan.." jawab Sari 
"Greentea ini untukku.." 
"Iyalah. Kamu kan sukanya greentea" 
Aku pun menyeruputnya hingga tersisa setengah "seger sekali, diluar panas banget, Sar.."
"Hubungan mu bagaimanaa dengan Baim?" Tanya Sari tanpa basa - basi 
Kuhela napas panjang "mungkin putus lebih baik" jawabku 
"Kapan kamu mau memutuskan dia?" 
"Entahlah, Sari.." 
Sari menatapku dengan pandangan sedikit kesal "jangan menggantungkan harapan Baim, kamu mau balas dendam, tiba - tiba meninggalkan dia" 

Saat kami sedang serius membicarakan tentang permasalahanku. Tiba - tiba pramusaji cafe memberiku kertas lipat yang sudah dibentuk menjadi origami "ini untuk anda Nona" katanya 
"Dari siapa?" Tanyaku kebingungan 
"Dari tuan yang duduk disudut cafe, memakai kemeja putih" jawabnya 
Kutengok laki - laki yang ditunjuk oleh pramusaji, dia melambaikan tangan padaku seraya melemparkan senyuman. 
"Kamu kenal dengan orang itu?" Tanya Sari sedikit berbisik 
"Enggak..." jawabku 
"Tapi, dia tampan juga lhoo" kata Sari sambil menyeringai nakal "lihat wajahnya, bahu bidangnya, rahangnya kuat, hidungnya mancung, bibirnya sexy, janggutnya Ris bikin geli, bulu matanya lentik, duh paket komplit gantengnya" puji Sari

Aku terkekeh geli melihat kecentilan Sari curi - curi pandang pada laki - laki itu "jadikan gebetan saja, siapa tahu berjodoh" 
"Eh, buka kertas itu. Siapa tahu ada nomornya.." kata Sari penasaran 
Kubuka kertas tersebut pelan - pelan agar tak robek "Ramadhan Karim" dua kata yang tertera didalamnya. 


Bersambung


#ODOP Batch 7
Magelang, 27102019






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ulasan Novel Dilanku Tahun 1990

Dilan Dia adalah Dilanku Tahun 1990 adalah Judul dari novel karya Pidi Baiq. Di novel ini penulis menceritakan seorang perempuan bernama Milea Adnan Husain yang menjadi tokoh aku dalam cerita ini. Semula tinggal di Jakarta kawasan Slipi, tetapi dia bersama keluarga harus pindah ke Bandung kawasan Buah Batu. Di dalam novel ini menceritakan kisah cinta antara Milea dan Dilan. Semuanya berawal saat Milea yang baru saja pindah ke kota Bandung. Latar waktu cerita ini diambil pada tahun 1990 di Bandung. Semula Milea menetap di Jakarta dan kemudian ia pindah bersama dengan keluarganya di Bandung. Bersekolah di salah satu SMA Negeri yang ada di Bandung. Di sekolah inilah awal mula bertemunya Milea dan Dilan, lewat berbagai ramalan - ramalan yang di ucapkan Dilan kepada Milea. Walaupun Dilan terkenal dengan anak yang nakal sering di panggil guru BP, anggota geng motor, akan tetapi dia mampu memberikan perhatian yang lebih kepada Milea. Lewat cara yang unik membuat Milea jatuh hati pada Dilan...

Bonding ala Terius

Saya adalah penggemar Drama Korea. Walaupun sudah berstatus "emak" sayapun masih tetap menyukainya. Kadang saat weekend atau pas me time sering ku gunakan untuk melihat dramkor. Semula suami tidak begitu menyukai dramkor, seiring berjalannya waktu pas aku sedang lihat, diam diam suami ikutan nonton juga. Dari situ beliau sedikit tertarik dengan dramkor, kami pun jadi sering menghabiskan waktu bareng untuk melihat dramkor. Banyak dramkor yang telah kami lihat, akan tetapi hanya ada beberapa saja yang menurut kami sangat cocok untuk dijadikan referensi dalam menjalani kehidupan diantaranya dalam mengasuh anak, membina keluarga, menjaga komitmen pernikahan dan perjuangan menggapai mimpi. Nah, saya sangat tertarik untuk mengulas salah satu dramkor yang sudah khatam kami tonton, drama tersebut berjudul "Terius Behind Me". Drama ini banyak menggambarkan adegan bonding antara anak dan ayah, menurutku cara Terius menjalin kedekatan dengan anak anak bisa di jadikan acua...

Belajar Jujur Dalam Segala Hal

  Siang itu, aku sedang bermain dengan adik perempuan ku di teras rumah. Ku lihat, Tobi berjalan terburu-buru dengan membawa satu kantong kresek hitam berisi telur. Aku pun merasa penasaran, ku ikuti langkah kakinya, dia berhenti di pekarangan dekat rumahnya sedangkan aku bersembunyi di balik pohon rambutan. Tobi mengeluarkan beberapa lembar uang dari dalam saku celana pendek, ia membagi uang tersebut menjadi dua bagian. Yang satu ia masukkan kedalam kantong kresek sedangkan yang lainnya ia kembalikan kedalam saku celana.    Aku tetap mengamati Tobi dari kejauhan, ku lihat ia masuk kedalam rumah. Beberapa menit kemudian dia keluar rumah dengan mengendarai sepedah hitamnya. "Aku harus mengikuti Tobi" gumam ku Aku segera pulang kerumah, mengeluarkan sepedah merah ku, dan mengejar Tobi. Dia sedang berada di toko peralatan sekolah, ku hampiri dia "Tobi, kamu beli apa?" Tanya ku penuh selidik  "Aku beli penggaris dan bulpen" jawab Tobi  "Kamu ...